Langsung ke konten utama

TANTRA ITU APA SIH? - REVIEW BUKU TANTRA I KETUT SANDIKA (Reviewer : KADITA PUTRI)

REVIEW BUKU TANTRA ILMU KUNO NUSANTARA Penulis : I Ketut Sandika Penerbit : JAVANICA Jml.Hlm : 367 Hlm No.ISBN : 978-602-6799-42-5 SINOPSIS: Jagat raya bermula dari kehendak Sanghyang Suwung yang misterius. Kehendak itu terekspresi melalui sabda Ong yang mengoyak kehampaan, mencitpakan ruang-waktu, menyebar ke segala arah dan membentuk pusaran-pusaran energi yang menempati 8 arah mata angin. Di titik pusatnya sendiri bergetar 2 pusaran energi yang disebut Siwa-Sakti. Rahman-Rahim, Yang-Yin, dan Lanang-Wadon di beberapa tradisi. Sepuluh pusaran energi itu oleh leluhur Nusantara dilambangkan dengan Dasaksara, 10 aksara mistis, yang membentuk sacred geometry bernama Mandala. Melalui getaran aksara-aksara itulah kehidupan tercipta. Aksara adalah cikal bakal seluruh ciptaan. Selaras dengan prinsip holografis, Dsaksra itu pun bersemayam di tubuh manusia selaku jagat alit yang menampung seluruh unsur jagat raya. Tubuh manusia pun tersusun dari aksara-aksara yang bergetar dan membentuk mandala, yang berpusat di inti hati tempa Sanghyang Suwung (Tuhan) bertakhta sebagai Sanghyang Atma (Ruh). Siapa yang mempu mengakses dan mendayagunakan aksara-aksara di tubuhnya, ia akan menjadi manusia yang sakti dan waskita. Lebih dari itu, siapa yang mampu menggulung semua aksara di tubuhnya dan mengembalikannya pada Sanghyang Suwung di inti hatinya, ia akan menjadi manusia sempurna, dan itulah yang disebut dengan moksa.Inilah sesungguhnya inti ajaran Tantra, ilmu kuno Nusantara yang diyakini sejumlah kalangan sebagai ilmu tertua di dunia. Didasarkan pada 30 lontar berbahasa Kawi, buku ini membabarkan hakikat Tantra, hakikat aksara dalam kehidupan, laku Tantra, hingga penyembuhan lewat meditasi aksara, hadir bagi Anda yang haus akan ilmu adiluhung warisan leluhur Nusantara. REVIEW: Tantra... Sesuatu hal yang mengusik diri saya untuk mempelajari apa itu Tantra. Ternyata ada banyak pandangan mengenai Tantra, ada yang memandang Tantra adalah ajaran yang “mesum” karena didalamnya ada muatan tentang seksualitas, ada yang mengatakan Tantra adalah ajaran sesat dan pandangan lainnya mengenai Tantra. Berawal dari isu tersebut mendorong saya untuk membeli dan membaca apa itu Tantra. Sebetulnya, ada banyak buku yang menuliskan tentang Tantra, tetapi saya memilih Tantra karangan I Ketut Sandika yang diterbitkan oleh Javanica. Tantra adalah sebuah warisan ajaran leluhur Nusantara, yang tepatnya berasal dari tanah Dewata, Bali. Mengapa Tantra oleh sebagian pandangan orang dianggap sebagai ajaran sesat? jawabannya adalah ternyata di Nusantara sudah banyak ajaran-ajaran Spiritual yang baru dan dianut secara massif oleh masyarakat Nusantara, hal tersebut menyebabkan ajaran-ajaran Kuno Nusantara, termasuk Tantra, tenggelam seiring dengan maraknya ajaran-ajaran baru yang datang. Selanjutnya, ajaran Tantra semakin tenggelam lantaran ada kekeliruan memandang dan memahami Tantra, terutama bagi mereka yang sudah memeluk ajaran spiritual baru. Mereka memandang dan memahami Tantra sebagai jalan “rendah” yang dipenuhi praktik-praktik menyesatkan dan hal-hal yang irrasional, kemudian praktik Tantra dianggap seolah-olah menyimpang dari agama. Padahal, Tantra bukanlah agama, melainkan laku spiritual yang memang dalam praktiknya banyak hal-hal ghaib dan mistik. I Ketut Sandika dalam buku Tantra ini, menjelaskan bahwa mistisme Tantra terdapat dua jalur besar, yakni Tantra Kiri dan Tantra Kanan. Dua jalur ini mewakili dua energi, dan keduanya mampu mengantarkan seseorang menuju jalan pembebasan. Di Bali, Tantra Kiri dikenal sebagai Tantra Pangiwa, dan Tantra Kanan dikenal sebagai Panengen. Baik Tantra Kiri maupun Kanan keduanya memilki tujuan yang sama, yakni sama-sama mengantaran seseorang mencapai kemanunggalan. Namun demikian setiap jalur memiliki tradisi sendiri. Sebetulnya saya sendiri belum pernah melihat atau belajar langsung mengenai apa itu Tantra, hanya secara literatur-literatur saja saya mengenal Tantra. Apa itu Tantra Kiri dan Tantra Kanan? Nah, mengenai Tantra Kiri dan Kanan, I Ketut Sandika mendefinisikan Tantra Kiri adalah menempuh jalan pembebasan yang lebih erotis dan berupaya menaklukan hal-hal yang sensual dengan cara radikal di luar mainstream. Seseorang yang berada di jalur ini tentu dapat mencapai kebebasan dengan memanfaatkan daya-daya erotis dan sensual sebagai salah satu cara untuk mengalami sensasi mistik, praktik Tantra Kiri sering pula berhubungan dengan hal-hal yang menyeramkan. Karena Tantra Kiri mengajarkan untuk menghancurkan segala ketakutan.Praktik Tantra Kiri adalah perilaku radikal sebagai jalan penghancuran diri, penghancuran diri disini bukan berarti menghilangkan sesuatu yang ada di dalam diri. Maksudnya adalah lebih pada upaya menetralkan energi negatif dalam diri dengan memanfaatkan daya-daya sensual, termasuk didalamnya upaya menetralkan sufat-sifat hewani. Dalam pandangan Tantra Kiri sudah menjadi hukum semesta bahwa energi dari dimensi alam bawah sangat kuat untuk menciptakan enegi negatig pada bhuawana agung, dan semua itu mesti dinetralkan. , hal yang sama terjadi di dalam diri kita sebagai bhuwana alit, di mana energi bawah yang masih sangat kasar memiliki kekuaran ampuh untuk menciptakan delusi, ketidaksadaran, dan ketidaktahuan dalam diri. Sedangkan Tantra Kanan, berbeda dengan jalur Tantra Kiri. Tantra Kanan mencari kebebasan dengan menggunakan pendekatan tapa, brata, yoga dan semadhi. Laku Tantra Kanan lebih bertujuan untuk mencari pembebasan dengan cara pengekangan atau pengendalian diri secara ketat. Kalau di Tantra Kiri praktiknya lebih ke memenuhi keinginan indrawi yang harus dipuaskan sampai titik jenuh. Sedangkan di Tantra Kanan, kebalikannya, jalur Kanan lebih ke mengendalikan diri bahkan ada yang sampai mengekang keinginan indrawi. Melakukan pengekakangannya dengan cara pengendalian diri yang bagaimana kita mengelola dan mengenali cara kerja indra-indra kita. Namun demikian, baik Tantra Kiri maupun Tantra Kanan, keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kedua jalan tersebut merupakan merupakan tahapan untuk memasuki ajaran Tantra yang lebih dalam. Dari penjelasan ini, dapat saya simpulkan mengenai laku Tantra Kiri dan Kanan, sebenarnya menyiratkan akan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dua sisi, yaitu sisi kebaikan dan sisi keburukan. Lantas, kita hendak mau menapaki sisi mana? tanpa keburukan, kebaikan tidak akan tercipta, dan tanpa kebaikan, keburukan tidak akan pernah ada. Jadi, keduanya memang tercipta satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya leluhur Nusantara melakukan pendidikan melalui cara-cara yang disebut dengan Tantra Kiri dan Tantra Kanan. Dua sisi tersebut adalah jalan untuk kita dalam menuju manunggal atau menuju Tuhan. Ada hal yang menarik tat kala saya membaca buku Tantra karangan I Ketut Sandika, yaitu ternyata Tubuh Manusia adalah Aksara dan Mandala. Manusia adalah aksara yang tersusun sedemikian rupa hinga membentuk raga dan berbagai lapisan didalamya. Melalui aksara kita dapat mengenal kesejatian diri. Dan dari aksara pula kita dapat mengetahui unsur-unsur pembentuk tubuh. Tujuan dasar mengetahui aksara aksara dalam diri adalah untuk melepaskan diri dari segala keterikatan tubuh. Kemudian tubuh manusia merupakan mandala, apa itu mandala?mandala dalam Tantra diartikan sebagai perpaduan dari beberapa simbol magis atau gaib yang membentuk sebuah pola diagram. Kemudian didalam Tantra, tubuh kita terbagi menjadi 3 mandala, yaitu: Mandala Utama, yang berbentuk lingkaran. Pada Mandala Utama terdapat niskala (gaib) yang berhubungan dengan alam atas. Kedua, dari leher ke bawah disebut Mandala Tengah, yaitu Bagian yang mewakili dimensi alam tengah (alam nyata) yang merupakan tempat pertemuan antara alam nyata dengan alam ghaib. Sedangkan yang ketiga adalah Mandala bawah, yang terletak antara pinggang hingga ujung kaki merupakan alam kasatmata yang terhubung dengan alam bawah.
Singkatnya, menurut saya ketika memahami aksara tubuh yang dijelaskan dalam buku Tantra ini, mungkin kurang lebih serupa dengan cakra-cakra tubuh manusia seperti cakra jantung, mahkota, tenggorokan, pusar dan lain-lain. Menurut saya, pembahasan mengenai aksara dalam Tantra ini adalah yang paling seru, paling membuat saya jadi tergugah akan kesadaran betapa luar biasanya Tuhan Gusti Allah menciptakan ciptaan-Nya begitu rinci, dan saya yakin sekali melalui pembelakaran aksara tubuh ini dapat membantu kita mengenal lebih dekat Yang Maha Pencipta. Pemahaman aksara dalam Tantra ini kalau menurut saya (mohon maaf kalau keliru) ini seperti ajaran Tassawuf dalam Islam, ya. Luar biasa, ternyata leluhur kita sudah mampu mengenali tubuh sebagai sarana mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta.
Lalu bagaimana pandangan mengenai Tantra sebagai ajaran yang “mesum”? Nah, ini topik yang menarik. Mengenai mengapa Tantra selalu dikaitkan dengan seksualitas dan dianggap mesum oleh sebagian orang ternyataaa, setelah saya baca sama sekali tidak mesum! Mungkin yang menganggap mesum justru dirinya yang mesum, hehehe... Setelah saya baca buku Tantra ini, mengenai senggama ternyata memiliki daya spirit yang luar biasa. Jadi, intinya, senggama itu memiliki arti penyatuan. Dan, makna penyatuan ini ada banyak sekali artinya. Dalam konsep makhluk hidup seperti manusia, senggama diartikan sebagai aktivitas seksual laki-laki dan perempuan dalam rangka hasrat dan mewarisi keturunan. Ternyata, dalam aktivitas ini merupakan bagian dari simbol penciptaan Tuhan dalam versi kecilnya. Maaf, ketika persenggamaan antara laki-laki dan perempuan hingga mencapai puncak maka terjadi yang dinamakan orgasme. Sedangkan disisi senggama dalam makrokosmos, yaitu penyatuan antara unsur-unsur semesta hingga terciptalah kehidupan. Pernah dengar Big Bang? nah, dalam skala mikrokosmos senggama hingga mencapai puncak sama seperti Big Bang yang pada akhirnya menciptakan kehidupan. Sanggama dalam aktivitas seksual adalah penyatuan energi feminin dan energi maskulin. Intinya, yang saya pahami kurang lebih pemahaman mengenai senggama, mengingatkan saya pada ajaran kepercayaan yang dianut saya, yaitu tentang penciptaan, bagaimana kita awal mulanya berasal dari setetes air mani dari ayah dan dalam wadah rahim sang ibu. Nah, itulah yang saya pahami mengenai Sanggama pada Tantra ini, tetapi yang jelas bukan berarti melakukan aktivitas sanggama dengan bebas atau tanpa aturan sebab jika tidak menggunakan aturan dan akal sehat dipastikan kita terjebak pada hal-hal yang akan merugikan diri kita baik merugikan secara lahiriah maupun batiniah. Sebetulnya, ada banyak sekali pembabaran yang sangat menarik yang ada di buku Tantra karangan I Ketut Sandika, dalam buku ini terdapat 7 bagian atau 7 bab ya, antara lain: ● BAB I : Mengenal Tantra sebagai Spiritualitas Nusantara ● BAB 2 : Mengenal Cakra, Trinadi, Ongkara dan Sanggama dalam Tantra ● BAB 3 : Memahami Meditasi yang didalamnya mengajak menyelam ke dalam diri ● BAB 4 : Tuntunan Meditasi Tantra ● BAB 5 : Tuntunan mengelola Olah Rasa ● BAB 6 : Laku atau pengaplikasian Tantra dalam kehidupan sehari-hari, disini kita dapat belajar memandang realitas kehidupan dan juga belajar welas asih kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan ● BAB 7 : Aksara dalam Tantra. Begitulah, review mengenai cuplikan buku Tantra karangan I Ketut Sandika ini, saya rasa masih dalam dan luas sekali mengenai Tantra ini. Yang jelas, I Ketut Sandika begitu apik dalam menyusun ajaran Tantra yang luas ini menjadi sebuah buku yang ringkas dan sederhana, mungkin beliau menulis buku Tantra ini masih sebatas pengantar atau sebatas dipermukaan saja, sebab saya yakin masih begitu dalam dan luas Tantra. Namun, yang jelas, buku yang sederhana dan enak dibaca dan dipahami ini mampu memberikan pengantar dan pemahaman kepada khalayak luas mengenai Tantra sebagai ajaran kuno Nusantara dari Bali. Kurang lebihnya begitu yang dapat saya suguhkan review buku Tantra, jika ditanya buku ini layak atau tidak layak, menurut saya ini sangat layak. Namun, kembali lagi kepada para pembaca yang budiman tentunya dengan mindset masing-masing. Terimakasih, sampai jumpa di review selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU MEDSEBA MEDITASI NUSANTARA KUNO by SETYO HAJAR DEWANTARA ( RESENSI BUKU )

Resensi Buku Medseba, Seni Meditasi Nusantara Kuno                                                Oleh : Kadita Putri  Hallo.... Selamat Datang kembali di Resensi Buku ala Kadita Putri. Kali ini buku yang akan Saya resensi adalah buku bertemakan Spiritual, yakni Medseba, seni meditasi Nusantara Kuno. Satu hal yang buat saya tertarik untuk meresensi buku ini adalah karena buku ini unik dan saya suka. Oke, supaya tidak kepanjangan langsung saja kita baca bersama. Selamat membaca! Judul : MEDSEBA ( Meditasi Nusantara Kuno ) Penulis          : Setyo Hajar Dewantoro Penerbit       :Javanica Tahun Terbit : 2016 Tebal : 256 Halaman No ISBN : 978-602-6799-17-3 Sinopsis : Medseba adalah formula meditasi yang digali dari ajaran leluhur Nusantara Kuno yang sangat kaya. Meds...

Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah-Letting Go (Sebuah Resensi)

Letting Go - Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah                                                                                                                               dokumentasi pribadi   Judul                    : Letting Go Penulis                : David R.Hawkins Penerjemah      : Shalahudin GH Penerbit           ...

REVIEW BUKU PITUTUR AGUNG SANG BATARA GURU - AJAR JATI SUNDA #KADITA PUTRI

   Reviewer oleh Kadita Putri “Agama sesungguhnya pelajaran dasar menempa diri untuk membentuk tata krama serta kelembutan hati nurani agar siseorang memeliki budhi pekerti yang terpuji dalam kehidupannya.” Pitutur Agung Sang Bathara Guru adalah buku yang ditulis oleh Lucky Hendrawan atau lebih akrab dipanggil dengan Abah Uci. Beliau adalah seorang tokoh penganut Pikukuh Sunda, budayawan, pengajar, penulis dan sekaligus pengampu paguronan Bumi Dega Sunda Academy. Buku ini terlahir dari keprihatinan penulis terhadap mulai memudarnya hasil daya cipta leluhur dan mulai memudarnya jati diri manusia dan jati diri bangsa yang diakibatkan oleh dinamika sejarah perjalanan bangsa. Isi buku ini merupakan penjabaran dari ajar Pikukuh Sunda dan di dalam buku Pitutur Agung Sang Bathara Guru ini diambil dari nasihat-nasihat bijaksana leluhur Sunda yang terdapat dalam naskah kuno seperti; Babad Tanah Jawi, Lontar Sundari Gama, Lontar Kala Tattwa, Naskah Amanat Galunggung, Naskah Siksa Ka...