Langsung ke konten utama

REVIEW BUKU PITUTUR AGUNG SANG BATARA GURU - AJAR JATI SUNDA #KADITA PUTRI




   Reviewer oleh Kadita Putri


“Agama sesungguhnya pelajaran dasar menempa diri untuk membentuk tata krama serta kelembutan hati nurani agar siseorang memeliki budhi pekerti yang terpuji dalam kehidupannya.”


Pitutur Agung Sang Bathara Guru adalah buku yang ditulis oleh Lucky Hendrawan atau lebih akrab dipanggil dengan Abah Uci. Beliau adalah seorang tokoh penganut Pikukuh Sunda, budayawan, pengajar, penulis dan sekaligus pengampu paguronan Bumi Dega Sunda Academy.

Buku ini terlahir dari keprihatinan penulis terhadap mulai memudarnya hasil daya cipta leluhur dan mulai memudarnya jati diri manusia dan jati diri bangsa yang diakibatkan oleh dinamika sejarah perjalanan bangsa.

Isi buku ini merupakan penjabaran dari ajar Pikukuh Sunda dan di dalam buku Pitutur Agung Sang Bathara Guru ini diambil dari nasihat-nasihat bijaksana leluhur Sunda yang terdapat dalam naskah kuno seperti; Babad Tanah Jawi, Lontar Sundari Gama, Lontar Kala Tattwa, Naskah Amanat Galunggung, Naskah Siksa Kandang Karesian, dan masih banyak lagi.

Buku ini terdapat 21 bab yang menuangkan ujar bijak bajik dari Pitutur Sunda yang berkaitan dengan soal hidup dan kehidupan manusia. 

Baiklah kita ulas hal-hal yang menarik dari buku ini.

Karma

Hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke (ada dahulu ada sekarang tidak ada masa lalu maka tidak ada masa sekarang).

Dalam Pikukuh Sunda setiap manusia dilahirkan sudah pasti membawa data-data kehidupan sebelumnya yang dikenal dengan karma, baik itu karma kebaikan maupun karma keburukan. Dalam buku ini menuturkan di alam raya ini tidak ada yang kebetuoan, segalanya terjadi karena memang sesuai dengan suratan, maka inti dari kelahiran adalah melakoni serta mengelola diri sebaik mungkin.

Kehidupan

Menurut Ajar Pikukuh Sunda yang tertuang dalam buku Pitutur Agung ini, kehidupan adalah segala keberadaan yang bergantung kepada Maha Hidup, tanpa itu semua segalanya tidak akan pernah hadir sebagai kehidupan. Pikukuh Sunda mengajarkan dan menegaskan bahwa ciri-ciri kehidupan adalah napas. Mengapa napas? ya, karena napas adalah yang menghubungkan segala keberadaan dengan Maha Daya Niskala (Tuhan).

“Tidak pernah ada manusia melakukan kebaikan tanpa bernapas, sebaliknya tidak pernah ada orang melakukan kejahatan tanpa bernapas. Semua perilaku kebaikan dan keburukan dilakukan oleh manusia yang bernapas dan semua itu harus dipertanggung jawabkan.”

 

Sembahyang

Sembah adalah melakukan pengabdian dengan tulus hormat dan hati bersih tanpa mengharapkan imbalan. Sedangkan Hyang adalah inti dari sumber Kehidupan atau DIA Yang Maha Pencipta. Jadi, sembahyang adalah kesadaran manusia sebagai kawula dan hubungan selaras yang dilandasi puncak kesadaran manusia. Sembahyang bagi Pikukuh Sunda menjadi pemicu kebangkitan budhi pekerti dengan perilaku lebih berguna bagi alam semesta.

Menimpa Diri

Pikukuh Sunda mengajarkan untuk melihat ke dalam diri sendiri dengan jujur sebagai seorang hamba sahaya dengan segenap kejujuran. Melihat ke dalam ruang pribadi adalah untuk menyadari bahwa begitu banyak sampah dari ke “aku”an palsi pada seseorang yang mengaku sebagai hamba. Sampah-sampah yang menumpuk merupakan berbagai macam kejadian dan pengalaman. Berbicara ke dalam diri merupakan perundingan antara sosok kawula yang kasar dengan DIA yang Maha Lembur. Perbincangan antara Kawula dengan Gusti dalam puncak kesadaran melahirkan kesadaran jiwa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan kesemestaan.

 

Hening Cipta

Ajar Sunda mengajarkan kepada kita untuk selalu hening cipta untuk meredam segala gejolak dan kekeruhan bathin. Membiasakan melakukan cipta sama dengan melatih kendali cipta, dalam tinjauan sains hening cipta sangat berguna untuk memperbaiki pola tatanan kimia tubuh beserta kelistrikannya, karena jika di biaran akan berdampak pada berbagai macam penyakit.

Batara Guru

Pikukuh Sunda menyadari bahwa segala keberadaan semesta/jagat Agung terdapat pada tubuh kita sebagai jagar Alit. Oleh karenannya manusa Sunda menyadari bahwa matahari sebagai pusat cahaya yang menerangi planet Bumi ini terwakilkan dalam tubuh kita salah satunya adalah mata. Pada hakikatnya manusia memiliki mata ketiga/sang trinetra. Namun, mata ketiga ini tergantung setiap individu. Mata ketiga adalah yang mengelola segala daya kelistrikan, ini adalah kekuatan manusia untuk menyerap ilmu pengetahuan.

Selengkapnya ada di Youtube  Review buku Pitutur Agung Bathara Guru 


Judul                          : Pitutur Agung Sang Batara Guru (Ujar Bijak & Bajik dari Sang Pencerah

Penulis                        : Lucky Hendrawan (Abah Uci)

Penerbit                      : Yayasan Bumi Dharma Nusantara

Tahun Terbit             : Cetakan ketiga, 2023

Tebal                          : 111 Halaman

No. ISBN                    : 978-602-60765-02




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah-Letting Go (Sebuah Resensi)

Letting Go - Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah                                                                                                                               dokumentasi pribadi   Judul                    : Letting Go Penulis                : David R.Hawkins Penerjemah      : Shalahudin GH Penerbit           ...

BUKU MEDSEBA MEDITASI NUSANTARA KUNO by SETYO HAJAR DEWANTARA ( RESENSI BUKU )

Resensi Buku Medseba, Seni Meditasi Nusantara Kuno                                                Oleh : Kadita Putri  Hallo.... Selamat Datang kembali di Resensi Buku ala Kadita Putri. Kali ini buku yang akan Saya resensi adalah buku bertemakan Spiritual, yakni Medseba, seni meditasi Nusantara Kuno. Satu hal yang buat saya tertarik untuk meresensi buku ini adalah karena buku ini unik dan saya suka. Oke, supaya tidak kepanjangan langsung saja kita baca bersama. Selamat membaca! Judul : MEDSEBA ( Meditasi Nusantara Kuno ) Penulis          : Setyo Hajar Dewantoro Penerbit       :Javanica Tahun Terbit : 2016 Tebal : 256 Halaman No ISBN : 978-602-6799-17-3 Sinopsis : Medseba adalah formula meditasi yang digali dari ajaran leluhur Nusantara Kuno yang sangat kaya. Meds...

KISAH KEN AROK SANG BRAHMAPUTRA - Damar Shashangka ( sebuah review novel )

  REVIEW BUKU KEN ANGROK SANG BRAHMAPUTRA                                                                                                          Gambar milik pribadi                                   SINOPSIS : Pada akhir abad ke-12, saat kecamuk antara Janggala dan Panjalu memuncak, lahir seorang anak dari wanita sudra cantik di Pangkur, Tumapel. Anak itu bernama Angrok,, leluhur kerajaan Singhasari dan Majapahit. Sejak dalam kandungan, kehadiran nya telah memakan korban. Gajahpara sang ayah tiri mati terbunuh. Semakin diyakinilah bahwa Angrok adalah Lembu Peteng . Sosok berdarah ksatria beri...