Pitutur Agung Sang Bathara Guru
adalah buku yang ditulis oleh Lucky Hendrawan atau lebih akrab dipanggil dengan
Abah Uci. Beliau adalah seorang tokoh penganut Pikukuh Sunda, budayawan,
pengajar, penulis dan sekaligus pengampu paguronan Bumi Dega Sunda Academy.
Buku ini terlahir dari
keprihatinan penulis terhadap mulai memudarnya hasil daya cipta leluhur dan
mulai memudarnya jati diri manusia dan jati diri bangsa yang diakibatkan oleh
dinamika sejarah perjalanan bangsa.
Isi buku ini merupakan penjabaran
dari ajar Pikukuh Sunda dan di dalam buku Pitutur Agung Sang Bathara Guru ini
diambil dari nasihat-nasihat bijaksana leluhur Sunda yang terdapat dalam naskah
kuno seperti; Babad Tanah Jawi, Lontar Sundari Gama, Lontar Kala Tattwa, Naskah
Amanat Galunggung, Naskah Siksa Kandang Karesian, dan masih banyak lagi.
Baiklah kita ulas hal-hal yang
menarik dari buku ini.
Karma
Hana
nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke (ada dahulu ada sekarang tidak
ada masa lalu maka tidak ada masa sekarang).
Dalam Pikukuh Sunda setiap
manusia dilahirkan sudah pasti membawa data-data kehidupan sebelumnya yang
dikenal dengan karma, baik itu karma kebaikan maupun karma keburukan. Dalam
buku ini menuturkan di alam raya ini tidak ada yang kebetuoan, segalanya terjadi
karena memang sesuai dengan suratan, maka inti dari kelahiran adalah melakoni
serta mengelola diri sebaik mungkin.
Kehidupan
Menurut
Ajar Pikukuh Sunda yang tertuang dalam buku Pitutur Agung ini, kehidupan adalah
segala keberadaan yang bergantung kepada Maha Hidup, tanpa itu semua segalanya
tidak akan pernah hadir sebagai kehidupan. Pikukuh Sunda mengajarkan dan
menegaskan bahwa ciri-ciri kehidupan adalah napas. Mengapa napas? ya, karena
napas adalah yang menghubungkan segala keberadaan dengan Maha Daya Niskala
(Tuhan).
“Tidak
pernah ada manusia melakukan kebaikan tanpa bernapas, sebaliknya tidak pernah
ada orang melakukan kejahatan tanpa bernapas. Semua perilaku kebaikan dan
keburukan dilakukan oleh manusia yang bernapas dan semua itu harus dipertanggung
jawabkan.”
Sembahyang
Sembah adalah melakukan
pengabdian dengan tulus hormat dan hati bersih tanpa mengharapkan imbalan.
Sedangkan Hyang adalah inti dari sumber Kehidupan atau DIA Yang Maha Pencipta.
Jadi, sembahyang adalah kesadaran manusia sebagai kawula dan hubungan selaras
yang dilandasi puncak kesadaran manusia. Sembahyang bagi Pikukuh Sunda menjadi
pemicu kebangkitan budhi pekerti dengan perilaku lebih berguna bagi alam
semesta.
Menimpa
Diri
Pikukuh Sunda mengajarkan untuk
melihat ke dalam diri sendiri dengan jujur sebagai seorang hamba sahaya dengan
segenap kejujuran. Melihat ke dalam ruang pribadi adalah untuk menyadari bahwa
begitu banyak sampah dari ke “aku”an palsi pada seseorang yang mengaku sebagai
hamba. Sampah-sampah yang menumpuk merupakan berbagai macam kejadian dan
pengalaman. Berbicara ke dalam diri merupakan perundingan antara sosok kawula
yang kasar dengan DIA yang Maha Lembur. Perbincangan antara Kawula dengan Gusti
dalam puncak kesadaran melahirkan kesadaran jiwa yang menjunjung nilai-nilai
kemanusiaan dan kesemestaan.
Hening Cipta
Ajar Sunda mengajarkan kepada
kita untuk selalu hening cipta untuk meredam segala gejolak dan kekeruhan
bathin. Membiasakan melakukan cipta sama dengan melatih kendali cipta, dalam
tinjauan sains hening cipta sangat berguna untuk memperbaiki pola tatanan kimia
tubuh beserta kelistrikannya, karena jika di biaran akan berdampak pada
berbagai macam penyakit.
Batara Guru
Pikukuh Sunda menyadari bahwa segala keberadaan semesta/jagat Agung terdapat pada tubuh kita sebagai jagar Alit. Oleh karenannya manusa Sunda menyadari bahwa matahari sebagai pusat cahaya yang menerangi planet Bumi ini terwakilkan dalam tubuh kita salah satunya adalah mata. Pada hakikatnya manusia memiliki mata ketiga/sang trinetra. Namun, mata ketiga ini tergantung setiap individu. Mata ketiga adalah yang mengelola segala daya kelistrikan, ini adalah kekuatan manusia untuk menyerap ilmu pengetahuan.
Selengkapnya ada di Youtube Review buku Pitutur Agung Bathara Guru
Judul : Pitutur Agung Sang
Batara Guru (Ujar Bijak & Bajik dari Sang Pencerah
Penulis
: Lucky Hendrawan
(Abah Uci)
Penerbit : Yayasan Bumi Dharma
Nusantara
Tahun
Terbit : Cetakan ketiga, 2023
Tebal : 111 Halaman
No. ISBN : 978-602-60765-02

Komentar
Posting Komentar