RESENSI NOVEL LEMAH ABANG 1 ( PIKUKUH JAWA SUNDA )
DAMAR
SHASHANGKA
Reviewer : Kadita Putri
Dokumentasi : milik pribadi
Judul : Lemah Abang 1 (
Pikukuh Jawa Sunda )
Penulis : Damar Shashangka
Penerbit : Manjer Wisesa
Tahun Terbit : 2020
Tebal : 573 Halaman
No ISBN : 978-623-920-4525
Sinopsis
:
Seiring dengan
merantaknya kegairahan kepada ajaran dharma baru yang dikenal sebagai Agama
Rasul di pesisir utara tanah Jawa, baik di pesisir timut yang banyak dihuni
oleh orang-orang Jawa dan pesisir barat yang banyak dihuni oleh orang-orang
Sunda, hadir dari tanah Atas Angin, Hasan ‘Ali Al-Husaini, seorang anak manusia
yang digadang-gadang akan menjadi penerus pimpinan di pashraman pengajaran
Agama Rasul yang berdiri di wilayah Kedhaton Cirebon, sebuah pashraman yang
dikenali sebagai Padhepokan Giri Amparan Jati, yang dipimpin oleh Pandhita
berdarah Atas Angin, bernama Syekh Nurjati.
Hasan ‘Ali Al – Husaini
sendiri masih terhitung sepupu dengan Syekh Nurjati. Bahkan dirinya juga masih
terhitung saudara angkat dari Sang Penguasa Cirebon, Shri Mangana. Seorang
bangsawan luhur cicit dari Mahaprabu Niskala Wastu Kencana, penguasa tertinggi
Kedhaton Sunda Galuh, cucu dari Prabhu Anom Dewa Niskala, Yuwaraja Kedhaton
Sunda Galuh dan putra dari Sang Pamanah Rasa tokoh yang sangat disegani di
wilayah Sunda Galuh.
Mendapati dirinya
menjadi harapan satu-satu nya dari sang kakak sepupu, Hasan ‘Ali Al-Husaini pun
tergerak hati untuk melakukan perjalanan masuk ke pedalaman Sunda dan Jawa demi
untuk mencecap pengajaran-pengajaran luhur yang terserak. Hasan ‘Ali Al –
Husaini berpendapat, hanya dengan memahami pengajaran-pengajaran luhur dari
pedalaman Sunda dan Jawa belaka maka perkembangan Agama Rasul akan cepat
terjadi karena hanya dengan memahami pengajaran luhur tersebut maka penyebaran
Agama Rasul tersebut bisa disesuaikan sehingga tidak akan menimbulkan banyak
pertentangan dan penolakan terlalu besar. Keinginan itu mendapat sokongan dari
Syekh Nurjati dan Shri Mangana bahkan Sang Penguasa Cirebon memberikan dana dan
beberapa prajurit Cirebon untuk mengawal perjalanan Hasan ‘Ali Al – Husaini.
Dimulai dari kabuyutan Pakwan wilayah Sunda
Galuh hingga nantinya berakhir tepat di hutan tenggara Balambangan Majapahit,
perjalanan pun dilakukan. Hasan ‘Ali Al – Husaini segera mendapatkan banyak
pengalaman rohani yang membuat dirinya semakin sadar bahwasan nya untuk
menyempurnakan kesatuan dengan Al –Haqq, maka dirinya harus berani membuang
ke-aku-an sepenuh-penuhnya. Hanya di tanah Jawa Semata dirinya akan mendapatkan
kesempurnaan maqam tertinggi dengan lelaku menempuh hidup serendah tanah yang
harus diinjak-injak dan perhinakan!
Assalamuaalaykum
Warrahmatulahi Wabarakatuh
Salam
Rahayu Sagung Dumadi
Om
Swastiyasthu
Sampurasun 🙏
Alhamdulilah,
di kesempatan kali ini saya akhirnya bisa juga mereview sebuah buku novel karya
Damar Shashangka. Novel Lemah Abang seri 1 ( Pikukuh Jawa Sunda ) ini. Jujur
saya sangat senang bisa mereview buku ini ke temen-temen semua, kenapa? Karena
buku ini keren banget bikin merinding yang baca nya. Jujur, saya berasa
seolah-olah ada di masa itu. Buku ini akan menceritakan perjalanan seorang
sosok Hasan ‘Ali – Al Husaini dalam menyiarkan agama Islam, uniknya Hasan ‘Ali
dalam menyebarkan agama Islam memiliki keunikan tersendiri yang tertuang
perjalanan nya pada buku ini. Buku ini juga mampu memberikan kita pada
penyelaman luas nya Sang Maha Pencipta yang keagungan nya dapat dijejak pada
ajaran-ajaran Nusantara sebelum Islam. Satu hal yang menurut saya paling menyentuh adalah; ternyata kehadiran Islam menyempurnakan ajaran sebelumnya,bukan merubah apalagi menghilangka. Pokoknya kalian pasti setelah baca novel ini jadi semakin tahu💓. Sangat memberikan wawasan dan pengetahuan,
baiklahhh..... kita langsung saja ke review nyaaa....💚
REVIEW :
Perjalanan
Hasan ‘Ali – Al Husaini yang termasyur sebagai tokoh besar dan berpengaruh
dalam penyebaran Agama Rasul ( baca : Islam ) di tanah Jawa ini mengalami
banyak pelajaran, pengetahuan yang luar biasa tat kala dirinya memutuskan untuk
ber Tirtayathra ( mengembara ) ke
seluruh pelosok tanah Parahyangan dan Jawa demi menimba ilmu luhur dari
berbagai agama di tanah Jawa, dirinya banyak bekal ilmu dari hakikat ajaran
Jati Sunda, hakikat ilmu Buda, hakikat ilmu Buddha selama pengembaraan nya. Hasan
‘Ali – Al Husaini memiliki pandangan bahwa untuk menyebarkan ajaran Islam tidak
perlu merobohkan bangunan yang sudah jadi, tetapi menata nya agar lebih terlihat
kokoh dan indah. Hasan ‘Ali memiliki
pendapat bahwa ada baiknya dirinya terjun langsung mempelajari ajaran, adat dan
budaya dari tanah Jawa. Dirinya enggan apabila menyebarkan ajaran Rasul secara
memaksa kepada masyarakat Jawa. Pandangan nya ini diutarakan kepada Syekh Datuk
Kahfi Sang Pemimpin Padepokan Giri Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi sendiri
sudah terhitung lama menyiarkan ajaran Islam, namun pengikutnya tidak terlalu
banyak. Kebanyakan pengikut nya hanya di pesisir utara Jawa, sedangkan di pedalaman
dan di pesisir selatan Jawa masih banyak yang menganut ajaran lama. Mendengar
penuturan Hasan Ali, Syekh Datuk Kahfi terasa tersadarkan, dirinya sadar bahwa
ucapan Hasan Ali sangat benar adanya. Pola pemikiran Hasan Ali menurut saya
sendiri sangat bijaksana, dirinya cerdas sampai-sampai memikirkan matang-matang
dan mau belajar terlebih dahulu ajaran leluhur secara mendalam sebelum dirinya
menyebarkan ajaran Rasul. Bagi saya pribadi sosok Hasan Ali adalah sosok Wali
yang berbeda dengan Wali lain nya, dirinya tidak memiliki ambisi untuk
menyebarkan agama Islam namun dirinya mempelajari dahulu akar ajaran leluhur,
dirinya berprinsip apabila sisi baik dari ajaran leluhur tidak perlu di ubah
tetap menjadi ajaran leluhur yang di poles dengan sentuhan ajaran Rasul,
sedanglan sisi yang kurang pas dari ajaran leluhur dapat di luruskan dengan
ajaran Rasul. Jadi semuanya tidak ada yang di bobrok.
Hasan
Ali berkelana ke pedalaman Sunda dan Jawa dengan bekal dana dan beberapa
prajurit pilihan dari Shri Mangana Cakrabuwana Sang Penguasa Cirebon. Cirebon
adalah Keraton pertama di tanah Jawa yang bernafaskan Islam. Tempat pertama
yang disinggahi oleh Hasan Ali adalah Kabuyutan Pakwan. Di sini Hasan Ali di
berikan pengetahuan oleh seorang Pandhita tentang ajaran luhur di tanah Sunda, sang
Pandhita juga membeberkan tahapan-tahapan dari ajaran Syiwa, Wisnu dan Buda. Di
Kabuyutan Pakwan ini Hasan Ali mendapat pelajaran dari Aki Buyut, Pandhita
kabuyutan Sunda tentang inti sejati dari setiap makhluk yang merupakan percikan
dari Sang maha Pencipta, Hasan Ali menyadari bahwa apa yang diajarkan oleh Aki
Buyut tentang ajaran Syiwa ini tak lain adalah Ruhul Qudus!
Bertolak
dari Kabuyutan Pakwan, Hasan Ali menginjakan kaki ke Kabuyutan Ciburuy. Di Kabuyutan
Ciburuy, Hasan Ali digembleng kembali ilmu dari ajaran Jati Sunda, yakni sebuah
pengetahuan tentang awal mula atma ( ruh ) di hidupkan, dan bagaimana atma
tersebut dapat selamat. Di dalam ajaran Jati Sunda di kenal dengan sembilan
Mandala, yakni: mandala agung ( tempat yang tidak tergambarkan keberadaan nya
), mandala samar ( tempat semua mulai mewujud ), mandala jati ( tempat jati
diri manusia dan seluruh makhluk terwujud), mandala suda ( tempat dimulai nya
kekotoran duniawi ), mandala seba ( tempat tenggelam nya oleh pengaruh duniawi
), mandala rasa ( tempat menyedihkan ), mandala karna ( kawasan atma dibalut
oleh unsur angkasa, api, air dan bumi). Mandala parmana ( tempat kesadaran ),
mandala kasungka ( kesempurnaan raga kasar yang siap dilahirkan ke dunia ). Hasan
Ali merasakan getaran yang sangat kuat tat kala dirinya diberikan wejangan oleh
Pandhita di Kabuyutan Ciburuy, dirinya merasa terenyuh mendapatkan pelajaran
luhur dari Jati Sunda, hingga diringa terkesima dalam lubuk hatinya; siapakah
sosok yang sudah mengajarkan agama Jati Sunda yang menurut pandangan nya
memiliki keluhuran yang patut dijadikan pedoman hidup.
Perjalanan
berikutnya Hasan Ali menjejaki daerah Gunung Galunggung, selama perjalanan
dirinya dihadang oleh sihir-sihir para penganut aliran hitam, dengan kekuatan
batin yang dimiliki oleh Hasan Ali, rombongan dirinya selamat dari amukan badai
hujan petir yang dahsyat yang ternyata itu adalah sihir. Tidak hanya itu
dirinya ditantang kesaktian oleh penjaga Galunggung, dengan niat tulus dan
suci, Hasan Ali memenangkan adu kesaktian tersebut. Mendapati Hasan Ali mampu
meredam amukan sihir dan memenangkan adu kesaktian tersebut, para prajurit
Hasan Ali semakin yakin bahwa Hasan Ali adalah bukan orang biasa!. Di Gunung
Galunggung dirinya mendapatkan petunjuk Ghaib bahwa dirinya adalah seorang
insan yang di restui oleh penjaga Nusantara untuk menggantikan wajah Jawa dan
Nusantara dengan corak wajah yang baru, dirinya juga mendapat petunjuk Ghaib
bahwa sebentar lagi Hasan Ali akan segera mengetahui sosok siapa penyebar
ajaran luhur dari Jati Sunda dan ajaran leluhur di Nusantara.
Hasan
Ali kembali berkelana menuju Gunung Hyang, dirinya bertapa dengan sosok pertapa
Buda yang berdiam di Gunung Hyang untuk menjalankan laku bathin. Hasan Ali di
wedarkan oleh Sang Wiku Buda tersebut tentang para makhluk halus di Nusantara
dan di Jawa. Satu hal yang menurut saya sangat menarik, disini Hasan Ali di beberkan
kisah Nusantara pada masa lampau! Dari sini kita dapat mengetahui seperti apa
kisah Nusantara di masa lampau yang konon ada sangkut pautnya dengan peradaban
canggih di masa lampau, yang di zaman sekarang di kenal dengan peradaban
Atlantis!.
Berbekal
pengetahuan tentang para makhluk halus yang berdiam di Nusantara, Hasan Ali
terpanggil batin nya untuk mengunjungi daerah pesisir laut Selatan Jawa.
Tarikan batin yang kuat mendorong dirinya terhampar ke pesisir laut Selatan
Jawa ternyata dirinya bertemu dengan sosok orang tua arif dan bijaksana, dialah
Syekh Maulana Maghribi. Pertemuan ini bukan di sengaja, melainkan memang
tarikan semesta untuk merek bertemu. Syekh Maulan Maghribi banyak menuturkan
sejarah politik keruntuhan Kedhaton Turki Utsmani, Kedhaton Tionghoa dan politik
bangsa Kulit Putih yang sudah mengincar Nusantara untuk direbut. Syekh Maulana
Maghribi menuturkan bahwa dirinya memohon kepada Gusti Allah untuk dipertemukan
dengan seseorang yang dapat meneruskan perjalanan dirinya mensyiarkan agama
Rasul, dia adalah Hasan ‘Ali Al – Husaini. Tidak hanya itu, Hasan ‘Ali mendapat titah
untuk segera bersua dengan seseorang yang menjadi tonggak Lalajer Bhumi Jawa. Menariknya, Syekh Maulana Magribi menuturkan esensi
dari Ratu Penguasa Laut Selatan!
Lepas
pertemuan nya dengan Syekh Maulana Maghribi dirinya bertandang ke sebuah tempat
Padhukuhan Tarub, atas perintah Syekh Maulana Maghribi, Hasan Ali menemui Kuwu
Tarub dialah Ki Ageng Tarub, atau Jaka Tarub. Hasan Ali tidak menyangka bahwa
di Padhukuhan ini dirinya akan dipertemukan oleh seseorang Tonggak Bumi Jawa
yang kini sedang di asuh oleh Ki Ageng Tarub. Seseorang Tonggak Bumi Jawa
tersebut adalah kunci awal Jawa dan Nusantara berwajah baru! Ki Ageng Taru
sendiri ternyata ada hubungan khusus dengan Syekh Maulana Maghribi! Dari
Padhukuhan Tarub inilah perjalanan awal Hasan Ali memulai cerita babak baru
dimulai, bersama Seseorang Tonggak Lalajer Bhumi Jawa dirinya menuju ke arah
Timur dimana negeri Majapahit berada! Perjalanan rombongan Hasan Ali dan Sosok
Tonggak Lalajer Bhumi Jawa akan di sambungkan pada novel Lemah Abang 2.
Pertanyaan nya, siapakah Lemah Abang itu?
KEUNGGULAN:
Bagi
saya pribadi, Novel Lemah Abang I ini nyaris sempurna, penulis nya benar-benar
sangat apik, runtut sedemikain rupa sehingga mampu mengantarkan pembaca pada
kejadian yang sebenarnya. Penulis mampu menyajikan dengan jelas sejarah-sejarah
aslinya, selain itu penulis mampu menjadikan setiap percakapan/dialog pada
novel ini terasa sangat realita. Di samping itu penulis sangat runtut sekali
merangkai dan menyambungkan kejadian-kejadian sejarah sehingga pembaca memiliki
kesan “oh, jadi ini cerita aslinya.”
KELEMAHAN:
Kelemahan
pada buku ini adalah pembaca harus “mudeng” dengan alur cerita terutama
nama-nama tokoh nya. Si penulis menuliskan lengkap nama-nama tokoh sampai nama
alias nya dengan menggunakan bahasa Jawa/Sunda Kuno yang dimana nama orang
zaman dahulu sangat panjang gelar nama nya. Tidak itu pula ada banyak sekali
bahasa sanskerta kuno yang sangat sulit sekali di hafalkan atau di ucapkan, dan
ini perlu ketelatenan kita untuk memahami nya. Selain itu menurut saya cover
novel ini ( menurut saya ) agak kurang pas, padahal yang saya ketahui penulis
Damar Shashangka setiap meluncurkan buku, cover nya sangat menarik sekali.
Tapi, itu tidak masalah, cover di Novel ini sebetulnya sudah cukup, ini hanya
menurut pandangan saya pribadi saja.
Terimakasih, atas kunjungan teman-teman
pada blog saya. Temen-temen yang mau memiliki buku Novel Lemah Abang seri I
dapat langsung memesan ke penulis nya langsung loh, di toko buku juga ada sih,
tapi kalau mau kenal langsung boleh kontak FB nama penulis nya ya. Insya Allah,
next akan saya review novel Lemah Abang seri 2 nya. 🙏💛

Komentar
Posting Komentar